13 Nov 2013

Kebiasaan Lama yang Ramah Lingkungan

Kebiasaan lama tidak selalu jelek bahkan ada yang ramah lingkungan. Apakah itu? Dulu, sewaktu saya di sekolah dasar (sekitar akhir tahun 70-an) kalimat “beli bakso dibungkus” bisa menimbulkan tertawa karena hal itu mustahil dilakukan. Ketika itu, jika orang membeli bakso atau makanan berkuah (panas) atau es campur akan membawa mangkuk atau rantang sendiri jika hendak dibawa pulang.

Kebiasaan Lama yang Ramah Lingkungan


Saya pun masih ingat ketika Ayah menyuruh membeli bakso di sebuah restoran membekali saya dengan rantang susun. Juga saat membeli rujak soto makanan khas Banyuwangi, pasti membawa mangkuk. Berbeda jika membeli rujak cingur atau rujak buah tanpa kuah banyak (panas), cukup dengan dibungkus dengan daun pisang saat dibawa pulang.

Kebiasaan lama yang ramah lingkungan kini pun semakin menghilang. Membeli es kelapa muda, bakso, soto atau makanan berkuah panas sekalipun kini dapat dilayani dengan praktis dan mudah dengan menggunakan kantong plastik. Pembeli tidak lagi direpotkan dengan mangkuk atau rantang jika makanan dibawa pulang. Namun, kepraktisan itu dapat menimbulkan masalah baru yaitu tumpukan sampah yang sulit diurai.

Kita tahu, saat ini plastik merupakan bahan yang akrab bagi kita. Hampir bisa dipastikan kita semua pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang terbuat dari plastik seperti botol minum, pipa paralon, tempat makan, gelas, kantong kresek untuk belanja, dan masih banyak lagi. Namun plastik juga beresiko terhadap lingkungan kita. Selain menimbulkan gunungan sampah karena sangat lama terurai hancur juga resiko terhadap kesehatan.

Bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh plastik telah banyak ditulis di media masa, jurnal penelitian, dan sebagainya. PBB pun membuat program lingkungan yang berhubungan dengan sampah plastik yang kian menyebar di dunia. Hanya beralasan kepraktisan, akankah mengorbankan lingkungan dan kesehatan?

Kebiasaan Lama yang Ramah Lingkungan


Kebiasaan lama Ibu atau Nenek jika ke pasar tradisional dengan membawa tas yang terbuat dari daun pandan atau bambu maupun kain seakan sirna. Kini, cukup berbekal dompet berisi uang, setiba di rumah telah menjinjing kantong-kantong plastik dari pasar. Apalagi dengan merebaknya pasar swalayan yang menyediakan tas belanja plastik sebagai layanan pelanggan sekaligus promosi.

Dulu, saya melihat tukang legen (Nila - air yang dihasilkan dari manggar bunga kelapa atau dari manggar bunga pohon aren, atau dibuat dari pohon siwalan) di pinggir jalan menggunakan tabung dari bambu (bumbung), sekarang lebih banyak menggunakan paralon atau botol-botol plastik air mineral. Penjaja es dawet pun mengganti gentong tanah liat dengan gentong plastik, apalagi dapat dibungkus dengan gelas plastik plus sendok plastik plus kantong kresek.

Kampanye pengurangan penggunaan plastik gencar dilakukan untuk menghindari tumpukan sampah plastik di sungai, bendungan, laut sampai di atas gunung. Namun kebiasaan baru masyarakat yang merasa mendapat kepraktisan, kemudahan, murah, seakan mengabaikan semuanya. Padahal ada kebiasaan lama yang ramah lingkungan.

2 komentar

Yah, sejarah memang ga bisa diubah gan... Yang penting sekarang kita harus mikirin gmana kita merubah tradisi yang buruk itu di masa depan... postingan yang menarik gan... visit ya www.ipb.ac.id

kalau tradisi lama yang baik dipertahankan...

Maaf Komentar terpaksa dimoderasi. Gunakan Nama yang wajar dan tidak out of topic. Terima Kasih