Kebiasaan Lama yang Ramah Lingkungan

  • Whatsapp

Kebiasaan lama tidak selalu jelek bahkan ada yang ramah lingkungan. Apakah itu? Dulu, sebelum tahun 70-an, kalimat “beli bakso dibungkus” bisa menimbulkan tertawa karena hal itu mustahil dilakukan. Ketika itu, jika orang membeli bakso atau makanan berkuah (panas) atau es campur akan membawa mangkuk atau rantang sendiri jika hendak dibawa pulang.

beli bakso

Muat Lebih

Dulu jika membeli bakso, soto atau makanan berkuah panas, pembeli biasanya membawa mangkok atau rantang sendiri. Jika membeli makan tidak berkuah, atau kuahnya sedikit seperti rujak cingur atau rujak buah tanpa kuah banyak (panas), bisa dengan dibungkus dengan daun pisang saat dibawa pulang.

Saat itu, kantong plastik masih jarang apalagi styrofoam (kemasan makanan sekali pakai dari busa untuk berbagai makanan).

Kebiasaan lama yang ramah lingkungan kini pun semakin menghilang. Membeli es kelapa muda, bakso, soto atau makanan berkuah panas sekalipun kini dapat dilayani dengan praktis dan mudah dengan menggunakan kantong plastik.

Pembeli tidak lagi direpotkan dengan mangkuk atau rantang jika makanan dibawa pulang. Namun, kepraktisan itu dapat menimbulkan masalah baru yaitu tumpukan sampah yang sulit diurai.

Kita tahu, saat ini plastik merupakan bahan yang akrab bagi kita. Hampir bisa dipastikan kita semua pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang terbuat dari plastik seperti botol minum, pipa paralon, tempat makan, gelas, kantong kresek untuk belanja, dan masih banyak lagi.

Namun plastik juga beresiko terhadap lingkungan kita. Selain menimbulkan gunungan sampah karena sangat lama terurai hancur juga resiko terhadap kesehatan.

Bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh plastik telah banyak ditulis di media masa, jurnal penelitian, dan sebagainya. PBB pun membuat program lingkungan yang berhubungan dengan sampah plastik yang kian menyebar di dunia. Hanya beralasan kepraktisan, akankah mengorbankan lingkungan dan kesehatan?

Kebiasaan Lama yang Ramah Lingkungan

Kebiasaan lama Ibu atau Nenek jika ke pasar tradisional dengan membawa tas yang terbuat dari daun pandan atau bambu maupun kain seakan sirna. Kini, cukup berbekal dompet berisi uang, setiba di rumah telah menjinjing kantong-kantong plastik dari pasar. Apalagi dengan merebaknya pasar swalayan yang menyediakan tas belanja plastik sebagai layanan pelanggan sekaligus promosi.

Dulu,penjual legen (Nila – air yang dihasilkan dari manggar bunga kelapa atau dari manggar bunga pohon aren, atau dibuat dari pohon siwalan) di pinggir jalan menggunakan tabung dari bambu (bumbung), sekarang lebih banyak menggunakan paralon atau botol-botol plastik air mineral.

Penjaja es dawet pun mengganti gentong tanah liat dengan gentong plastik, apalagi dapat dibungkus dengan gelas plastik plus sendok plastik plus kantong kresek.

Kampanye pengurangan penggunaan plastik gencar dilakukan untuk menghindari tumpukan sampah plastik di sungai, bendungan, laut sampai di atas gunung. Namun kebiasaan baru masyarakat yang merasa mendapat kepraktisan, kemudahan, murah, seakan mengabaikan semuanya.

Padahal ada kebiasaan lama yang ramah lingkungan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Yah, sejarah memang ga bisa diubah gan… Yang penting sekarang kita harus mikirin gmana kita merubah tradisi yang buruk itu di masa depan… postingan yang menarik gan…