Sayur Lodeh 7 Warna Untuk Hadapi Pagebluk

  • Whatsapp

Warga Jogja banyak yang membuat sayur lodeh 7 warna seperti saudaraku yang tinggal di Jogja. Meskipun saya bukan warga Jogja, tapi saya orang Jawa dan sayur lodeh salah satu masakan kegemaran saya. Apalagi jika sayur lodeh itu dengan bahan tujuh macam yaitu : kluwih, kacang panjang, terung, kulit mlinjo, waluh, daun mlinjo muda, dan tempe. Dengan nasi hangat, ditambah sambal dan krupuk, ah begitu nikmat.

sayur lodeh 7 warna

Bacaan Lainnya

Tapi lodeh 7 warna seperti itu langka atau jarang dibuat untuk keseharian. Biasanya warga Jogja akan memasak jika Raja memerintahkan. Raja bukan memerintah rakyatnya membuat santapan untuk beliau, namun sedang berbicara dengan perlambangan kepada rakyatnya.

Makna Lodeh 7 Warna

Perintah Raja Jawa untuk membuat lodeh 7 warna sebagai simbolik menghadapi pagebluk yang sedang melanda wilayahnya.  Sayur tujuh warna memiliki makna untuk mengolah berbagai laku, yakni: 1) berlapang dada dan bersyukur dengan bersedekah; 2) menjaga bakti kepada orang tua; 3) meningkatkan belas kasih kepada sesama: 4) selalu mawas diri atau berintrospeksi; 5) merawat dan selalu menjalankan nasihat leluhur; 6) menjaga nama baik orang tua dengan merawat ikatan saudara; dan 7) bertobat dengan memantapkan ibadah untuk keselamatan di dunia dan akhirat.

Rupanya ada makna di balik masing-masing bahan tersebut (kluwih, kacang panjang (cang gleyor), terong, waluh, godhong so (daun mlinjo), kulit mlinjo dan tempe).

Kluwih: kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne (keluarga lebihkan dalam memberi nasehat dan perhatian)

Cang gleyor : cancangen awakmu Ojo lungo-lungo (ikatlah badanmu, jangan pergi-pergi)

Terong : terusno anggone olehe manembah Gusti Ojo datnyeng, mung Yen iling tok. (Lanjutkan tingkatkan dalam beribadah, jangan hanya jika ingat saja)

Kulit melinjo : Ojo mung ngerti njobone Ning kudu Reti njerone Babakan pagebluk. (Jangan hanya paham akibatnya saja, tapi harus paham secara mendalam penyebab wabah)

Waluh : uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan keluhan dan rasa galau –harus tetap semangat-)

Godong so : golong gilig donga kumpul wong Sholeh sugeh kaweruh Babakan agomo lan pagebluk (Bersatu padu berdoa bersama orang yang saleh, pandai soal agama, juga wabah penyakit)

Tempe : temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (benar-benar fokus mohon pertolongan kepada Tuhan)

Ya, itulah cara simbolik orang Jogja menghadapi pagebluk. Ikhtiar menghadapi pagebluk memang bukan hanya persoalan lahir, tapi juga urusan batin. Oleh karena itulah sejak zaman mitologi, dalam menghadapi pagebluk selalu dicari orang-orang linuwih yang memiliki pengetahuan dan kemampuan tingkat tinggi karena pencipta pagebluk ini umumnya pengikut setan yang ilmunya juga tingkat tinggi.

Mungkin sayur tujuh warna yang sekarang sedang dihidupkan di Jogja itulah sebagai penangkal pagebluk virus corona (COVID-19) yang kini dirasakan oleh warga Jogja dan Indonesia serta berbagai negara di dunia. Salah satu yang dilakukan warga Yogyakarta untuk mengusir wabah tersebut. atau dikenal dengan istilah tolak bala.

Hal-hal yang terkait tolak bala pasti disebut ‘bersumber dari keraton’. Tapi belum tahu apakah benar. Ketika merapi erupsi tahun 1992 juga ada tolak bala membuat sayur lodeh plus minum degan ijo dengan jinten.

Walaupun demikian, imbauan tersebut tidak memaksa harus dilakukan oleh warga Jogja secara keseluruhan. Memasak atau tidak memasak lodeh 7 warna kini bergantung pada kepercayaan masing-masing orang.

Karena itu (tolak bala) adalah bagian dari kearifan lokal dan terkadang merupakan pesan-pesan dalam simbol. Tindakan Raja dan warganya merupakan bentuk tradisi dalam menyikapi bencana dan tidak harus menunggu konfirmasi sains.

Jika dicermati, pesan tersebut menyimpan kearifan tersendiri dalam menghadapi wabah virus Corona saat ini. Itu makanan yang selain beraneka tentu bisa memberi asupan nutrisi hingga protein. Tentu sedikit banyak ada faedahnya meningkatkan vitalitas tubuh. Dan bagi saya itu makanan lezat 🙂

Disclaimer:

Ini bukan berita, hanya artikel biasa yang membahas makna dalam salah satu tradisi di Jawa.

 

Sayur Lodeh 7 Warna Untuk Hadapi Pagebluk

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *